You are currently viewing Kita hadir dalam dunia yang penuh pancaroba

Kita hadir dalam dunia yang penuh pancaroba

  • Post author:
  • Post category:konsep

Pertanyaan Sepanjang Zaman

Di bawah langit yang penuh bintang, manusia sejak dahulu bertanya: Siapa kita? Dari mana asalnya? Mengapa kita hidup, dan apa yang menanti selepas mati? Falsafah Yunani, sains moden, hingga ajaran agama—semua mencoba menjawab. Namun, akal yang jujur akan mengakui: soalan ini tak mungkin diabaikan.


Dari Mana Kita Datang?

Realiti yang Terhampar

Lihat tubuh kita—jantung berdegup tanpa henti, otak menyimpan jutaan memori, DNA menyimpan kod kehidupan yang lebih kompleks daripada komputer tercanggih. Lihat pula alam semesta—planet beredar dengan hukum pasti, bintang lahir dan mati, bumi menyediakan oksigen, air, dan cahaya matahari tepat seimbang untuk hidup.

Apakah semua ini kebetulan?

Analisis Akal

Sesuatu yang baru wujud pasti ada yang mewujudkan. Alam semesta bermula, maka ada membuatnya bermula. Kita tidak menciptakan diri kita, bahkan sekadar denyutan jantung pun di luar kawalan kita. Maka, ada Pencipta (Khaliq) yang Maha Berkehendak.

Penjelasan Wahyu

Al-Qur’an menegaskan: manusia berasal dari Nabi Adam yang diciptakan dari tanah, lalu Allah meniupkan ruh-Nya (QS Shad: 71–72). Dari Adam dan Hawa, lahir seluruh umat manusia. Inilah asal-usul yang menyatukan kita.


Kenapa Kita Datang?

Renungan Akal

Adakah manusia hanya untuk makan, tidur, bekerja, dan mati? Kalau tujuan hidup sama seperti binatang, mengapa kita dianugerahi akal yang mampu mencipta peradaban, hukum, dan seni? Akal menolak hidup tanpa makna.

Jawapan Wahyu

Allah telah menjawab persoalan ini:
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56).

Menyembah bukan hanya ritual, tetapi seluruh aspek kehidupan tunduk pada aturan-Nya—dari keadilan ekonomi, kejujuran politik, hingga kasih sayang dalam keluarga.


Ke Mana Kita Akan Pergi?

Logik Akal

Kematian adalah kepastian. Jika setelah mati tiada apa-apa, maka keadilan tak pernah benar-benar wujud: orang jahat dan orang baik sama-sama lenyap. Akal menuntut ada kehidupan selepas kematian untuk menegakkan keadilan hakiki.

Kepastian Wahyu

Al-Qur’an menegaskan setiap jiwa akan kembali kepada Allah (QS Al-‘Ankabut: 57). Di akhiratlah manusia dibalas—syurga bagi yang taat, neraka bagi yang menolak kebenaran.


Adakah Sains Mencukupi?

Sains mampu menjelaskan bagaimana: bagaimana jantung berdetak, bagaimana bumi berputar, bagaimana spesies berevolusi. Tetapi ia tidak mampu menjawab mengapa: mengapa kita wujud, mengapa ada moral, mengapa ada keadilan.

Di sinilah akal berhenti. Dan di sinilah wahyu melanjutkan jawapan. Tanpa wahyu, pertanyaan paling mendasar manusia tetap tak terjawab.


Jalan Pulang

Menggunakan akal, kita sampai pada kesimpulan bahawa ada Pencipta. Menggunakan wahyu, kita faham siapa Pencipta itu, mengapa kita diciptakan, dan ke mana kita akan kembali.

  • Dari mana kita datang? Dari Allah, melalui penciptaan Adam.
  • Kenapa kita datang? Untuk menyembah-Nya dan hidup menurut aturan-Nya.
  • Ke mana kita akan pergi? Kembali kepada-Nya, menuju balasan yang adil.

Persoalan ini bukan sekadar teori. Ia adalah panggilan kepada setiap manusia: apakah kita memilih hidup dalam keraguan, atau kita pulang dengan keyakinan kepada Pencipta yang sejak awal telah menghadirkan kita?